7 Perang Melawan Penjajah
7 PERANG MELAWAN PENAJAJAH
Perang 10
november
Tanggal 10 November selalu
diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan di Sejarah Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Sejarah Peristiwa 10
November selalu menarik untuk dibahas karena peristiwa tersebut menunjukkan
betapa besarnya keinginan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.
Pertempuran Surabaya adalah pertempuran tentara dan milisi pro-kemerdekaan
Indonesia dan Tentara Britania Raya dan India Britania. Puncak pertempuran ini
adalah terjadinya Peristiwa 10 November 1945.
Kronologi Sejarah Peristiwa 10
November
Penjelasan lebih rinci mengenai
kronologi sejarah Peristiwa 10 November yakni sebagai berikut:
- Kedatangan Tentara Inggris yang diboncengi oleh Tentara Belanda
Peristiwa 10 November tidak terlepas
dari kedatangan Tentara Inggris yang diboncengi oleh Tentara Belanda.
Kedatangan Tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands
East Indies) berdasarkan keputusan dan atas nama Blok Sekutu. Kedatangan mereka
bertujuan untuk melucuti Tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang
ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya.
Namun, kedatangan Tentara Inggris ternyata
diboncengi oleh Tentara Belanda NICA (Netherlands Indies Civil Administration)
ikut membonceng ke Indonesia untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi
pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Hal ini memunculkan
pergerakan perlawanan rakyat Indonesia dimana-mana untuk melawan tentara AFNEI
dan pemerintahan NICA. Baca juga Agresi Militer Belanda 1, Agresi Militer Belanda 2, dan masa penjajahan Belanda di Indonesia.
- Pengibaran Bendera Belanda di Hotel Yamato
Pasca Sejarah Kemerdekaan Indonesia dan dikeluarkannya maklumat
pemerintah Soekarno tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1
September 1945 bendera nasional Sang Merah putih dikibarkan terus di seluruh
wilayah Indonesia. Gerakan tersebut semakin meluas ke segenap pelosok kota
Surabaya.
Setiap tempat strategis dan berbagai
tempat lainnya dikibarkan bendera Indonesia. Misalnya, di teras atas Gedung
Kantor Karesidenan (Kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan
Pahlawan) yang berlokasi di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di
atas Gedung Inernatio. Gerakan pengibaran bendera ini disusul barisan pemuda dari
segala penjuru di Surabaya. Mereka membawa bendera Indonesia datang ke
Tambaksari (lapangan Stadion Gelora 10 November) dalam rangka menghadiri rapat
raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.
Lapangan Tambaksari dipenuhi
lambaian bendera merah putih yang disertai pekik “Merdeka” yang diteriakkan
massa. Rapat terus berlangsung meskipun pihak Kempetai melarang rapat tersebut.
Namun, pihak Kempetai tidak mampu menghentikan dan membubarkan massa rakyat
Surabaya tersebut. Puncak dari gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi
saat insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru atau Hotel Yamato atau Oranje
Hotel (saat ini bernama Hotel Majapahit) yang berlokasi di Jalan Tunjungan No.
65 Surabaya.
Insiden Hotel Yamato diawali dengan
sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W. V. Ch Ploegman pada malam
hari, tepatnya pukul 21.00 pada tanggal 19 September 1945, yang mengibarkan
bendera Belanda (merah-putih-biru). Hal ini dilakukan tanpa persetujuan
Pemerintah Republik Indonesia Daerah Surabaya. Pengibaran dilakukan di tiang
pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.
Keesokan harinya, para pemuda
Surabaya menjadi marah karena melihat bendera Belanda berkibar di hotel
tersebut. Pengibaran tersebut dianggap sebagai tindakan penghinaan kedaulatan
Indonesia, hendak mengembalikan kekuasaan kembali di Indonesia, dan bahkan
dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang
berlangsung di Surabaya.
Kabar tersebut tersebar ke seluruh
kota Suarabaya, sehingga dalam waktu singkat Jalan Tunjungan dibanjiri oleh
massa yang geram. Residen Sudirman, seorang pejuang dan diplomat yang sedang
menjabat sebagai Wakil Residen sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya
Pemerintah Republik Indonesia, datang menemui Mr. Ploegman. Sudirman dikawal
oleh Sidik dan Hariyono saat berunding dengan Mr. Ploegman untuk menurunkan
bendera tersebut.
Ploegman menolak untuk menurunkan
bendera Belanda dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ia kemudian
mengeluarkan pistol dan terjadi perkelahian dalam ruang perundingan. Ia tewas
dicekik oleh Sidik, yang juga tewas oleh Tentara Belanda yang berjaga-jaga.
Sudirman dan Haryono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.
Para pemuda akhirnya mendobrak pintu
hotel hingga terjadi perkelahian di lobi hotel. Mereka berebut untuk bisa naik
ke lantai atas. Hariyono kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan
tiang bersama Kusno Wibowo. Mereka berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek
bagian birunya, dan mengereknya kembali ke puncak tiang. Peristiwa perobekan
bendera Belanda tersebut disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik
“Merdeka” berulang kali.
Setelah kejadian tersebut maka
meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27
Oktober 1945. Serangan-serangan kecil kemudian berubah menjadi serangan yang
banyak menelan korban jiwa di kedua belah pihak. Pihak Inggris, melalui
Jenderal D. C. Hawthorn, akhirnya meminta bantuan Presiden Soekarno untuk
meredakan ketegangan yang terjadi. Baca juga sejarah Monumen Tugu Pahlawan, bangunan bersejarah di Surabaya dan masjid bersejarah di Indonesia.
- Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby
Gencatan senjata terjadi antara
pihak Indonesia dan pihak Tentara Inggris ditandai dengan penandatanganan pada
tanggal 29 Oktober 1945. Situasi menegangkan diantara kedua belah pihak
berangsur-angsur mereda. Meskipun tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan
bersenjata di Surabaya antara kedua belah pihak. Bentrokan-bentrokan tersebut
semakin memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara
Inggris untuk Jawa Timur). Insiden ini terjadi pada tanggal 30 Oktober 1945
sekitar pukul 20.30.
Mobil yang ditumpangi Brigadir
Jenderal Mallaby berpapasan dengan serombongan milisi Indonesia saat akan
melewati Jembatan Merah. Terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan tembak
menembak antara kedua belah pihak. Hal ini menyebabkan tewasnya Brigadir
Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia. Mobil yang
ditumpangi Mallaby pun terbakar karena terkena ledakan granat yang menyebabkan
jenazah Mallaby sulit dikenali.
Hal ini menyebabkan pihak Inggris
marah kepada pihak Indonesia. Mereka kemudian menggantikan Mallaby dengan Mayor
Jenderal Eric Carden Robert Mansergh. Selain itu, dikeluarkan juga ultimatum 10
November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan
menghentikan perlawanan pada Tentara AFNEI dan Administrasi NICA.
- Peristiwa 10 November
Ultimatum yang dikeluarkan oleh
pengganti Jenderal Mallaby dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan
rakyat. Pasalnya ultimatum tersebut memerintahkan bahwa semua pimpinan dan
orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di
tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan ke atas.
Waktu batas ultimatum adalah pukul 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.
Sepuluh November pagi, Tentara
Inggris mulai melancarkan serangan. Mereka mendapatkan perlawanan dari pasukan
dan milisi Indonesia. Para pejuang kemerdekaan,seperti Bung Tomo, menggerakkan
rakyat Surabaya pada masa itu untuk berjuang melawan. Para tokoh-tokoh agama,
seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, mengerahkan santri-santri
dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan. Baca juga sejarah Hari Santri dan pahlawan nasional dari NTB.
Perlawanan berlangsung alot selama
sekitar tiga minggu. Pada awalnya perlawanan rakyat berlangsung secara spontan
dan tidak terkoordinasi, tetapi semakin hari makin teratur. Sekitar 6.000 –
16.000 pejuang dari pihak Indonesia kehilangan nyawanya dan 200.000 rakyat
sipil mengungsi. Sebanyak 600 – 2.000 pasukan Inggris dan India tewas dalam
pertempuran tersebut.
Banyaknya pejuang yang gugur dan
rakyat sipil yang menjadi korban menjadikan hari ini kemudian dikenang sebagai
Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia. Baca juga pahlawan nasional dari Jawa Timur dan museum di Surabaya. Inilah kronologi sejarah Peristiwa 10 November yang syarat
dengan nuansa heroik. Semoga bermanfaat.
.
BANDUNG LAUTAN API
Peristiwa Bandung Lautan Api
adalah peristiwa kebakaran
besar yang terjadi di kota Bandung,
provinsi Jawa
Barat, Indonesia
pada 24 Maret 1946.
Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka,
meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan
Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu
dan tentara NICA Belanda
untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Latar belakang
Pasukan
Inggris
bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12
Oktober 1945.
Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut
agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi,
diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp
tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan.
Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.
Malam tanggal 21
November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan
melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara,
termasuk Hotel Homann
dan Hotel
Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga
hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar
Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.
Ultimatum
Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia
(TRI, sebutan bagi TNI
pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi
"bumihangus".
Para pejuang pihak Republik Indonesia
tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan
untuk membumihanguskan Bandung
diambil melalui musyawarah Madjelis
Persatoean Perdjoangan Priangan
(MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946[2]. Kolonel Abdoel Haris
Nasoetion selaku Komandan
Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan
memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk
Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran
kota berlangsung.
Bandung
sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak
dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap
hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara
Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang
paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot,
sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi
besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad
Toha dan Ramdan,
dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk
menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang
tersebut dengan dinamit.
Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di
dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di
dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut
dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih
pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api
masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan
Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia
karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak
Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama
milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa
ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung
yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.
Beberapa
tahun kemudian, lagu "Halo, Halo
Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang
para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk
kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.
Pertempuran medan area
9 Oktober 1945,pasukan sekutu dipimpin Brigadir Jenderral T.E.D
Kelly mendarat di Sumatera Utara dengan memboncengi orang-orang NICA.13 Oktober
1945,Insiden pertama dari hotel di jalan Bali,Medan.Insiden berawal dari
penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak berndera merah putih yang di
pakai warga setempat.
10 Oktober 1945 dibentuk TKR Sumatera di pimpin Achmad Tahir dan badan perjuangan yang lainnya.15 Oktober 1945 mereka bergabung menjadi Pemuda Indonesia Sumatera Timur.Pada bulan November 1945,lahir laskar perjuangan baru seperti Napindo,Barisan Merah,Hizbullah dan pemuda parkindo.
18 Oktober 1945,Inggris memberi ultimatum kepada rakyat indonesia agar menyerahkan senjatanya.1 Desember 1945,sekutu memasang papam-papan yangbertuliskan fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudutkota Medan.Sejak saat itu,kata-kata "Medan Area" mennjadi terkenal.Bulan April 1946,Tentara Inggris berusaha mendesak pemerintah RI keluar kota Medan.10 A gustus 1946 di Bukit Tinggi diadakan pertemuan antara komandan pasukan yang berjuang di Medan Area yang di bentuksatu komando bernama komandon Resimen Laskar Rakyat Medan Area yang membawahi 4 sektor perjuangan.Dibawah komando ini,mereka meneruskan perjuangan di Medan Area.
10 Oktober 1945 dibentuk TKR Sumatera di pimpin Achmad Tahir dan badan perjuangan yang lainnya.15 Oktober 1945 mereka bergabung menjadi Pemuda Indonesia Sumatera Timur.Pada bulan November 1945,lahir laskar perjuangan baru seperti Napindo,Barisan Merah,Hizbullah dan pemuda parkindo.
18 Oktober 1945,Inggris memberi ultimatum kepada rakyat indonesia agar menyerahkan senjatanya.1 Desember 1945,sekutu memasang papam-papan yangbertuliskan fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudutkota Medan.Sejak saat itu,kata-kata "Medan Area" mennjadi terkenal.Bulan April 1946,Tentara Inggris berusaha mendesak pemerintah RI keluar kota Medan.10 A gustus 1946 di Bukit Tinggi diadakan pertemuan antara komandan pasukan yang berjuang di Medan Area yang di bentuksatu komando bernama komandon Resimen Laskar Rakyat Medan Area yang membawahi 4 sektor perjuangan.Dibawah komando ini,mereka meneruskan perjuangan di Medan Area.
Pertempuran 5 hari disemarang
Pertempuran Lima Hari di Semarang
dikenal dengan istilah Pertempuran Limang Dina dalam bahasa jawa, adalah
serangkaian pertempuran yang berlangsung antara rakyat Indonesia dan tentara
Jepang. Pertempuran yang menjadi bagian dari sejarah kota Semarang ini terjadi pada tanggal 15 – 19 Oktober 1945. Waktu itu
adalah masa transisi kekuasaan dari Jepang ke Belanda, dan seharusnya kekuasaan
Jepang di Indonesia sudah berakhir. Penyerahan diri Jepang terhadap sekutu
dilakukan pada tanggal 15 Agustus 1945 dan proklamasi kemerdekaan RI dibacakan
pada 17 Agustus 1945. Mr. Wongsonegoro ditunjuk sebagai penguasa Republik di
Jawa Tengah berpusat di Semarang untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang
dalam segala bidang. Kemudian dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menjadi
Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Penyebab Peristiwa Lima Hari Di
Semarang
Peristiwa lima hari di Semarang
terjadi karena beberapa alasan yang menjadi pemicunya hingga mencapai puncak
berupa pertempuran selama lima hari tersebut. Beberapa hal yang menjadi penyebab pertempuran 5 hari di Semarang yaitu:
- Kericuhan Penyitaan Senjata Jepang
Di beberapa wilayah, pelucutan
senjata tentara Jepang dapat dilakukan tanpa kekerasan namun di Semarang justru
terjadi kekacauan. Kido Butai, pusat ketentaraan Jepang di Jatingaleh Semarang
curiga bahwa senjata – senjata tersebut tidak akan digunakan untuk melawan
Jepang. Kecurigaan itu tetap ada walaupun Mr. Wongsonegoro telah menjaminnya
sebagai Gubernur. Permintaan yang diulang untuk menyerahkan senjata hanya
menghasilkan pengumpulan senjata – senjata yang sudah agak usang. Ketika sekutu
mendaratkan pasukannya di Pulau Jawa, Pemuda Semarang dan BKR semakin curiga.
Dikhawatirkan bahwa Jepang akan menyerahkan senjata kepada Sekutu dan Indonesia
harus mendapatkan kesempatan menyita senjata tersebut sebelum sekutu mencapai
Semarang. Kondisi semakin memanas ketika tawanan Jepang yang dipindahkan
dari Cepiring ke Bulu, kabur dan bergabung dengan pasukan Kidobutai.
- Isu Racun Pada Air Minum
Setelah tawanan Jepang melarikan
diri, para pemuda diinstruksikan untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang
lewat di depan RS Purusara pada 14 Oktober 1945 pukul 06.30. Pemeriksaan itu
menghasilkan penyitaan sedan dan senjata milik Kempetai, lalu sore harinya
tentara Jepang yang tersisa ditawan ke penjara Bulu. Pukul 18.00 terjadi
serangan mendadak dari pasukan Jepang bersenjata lengkap dan melucuti delapan
anggota polisi istimewa yang sedang menjaga Reservoir Siranda, sumber air minum
warga kota di Candilama. Kedelapan anggota polisi dibawa ke markas Kidobutai di
Jatingaleh, kemudian tersebar kabar bahwa tentara Jepang sudah meracuni sumber
air minum tersebut yang membuat rakyat gelisah. Kala itu cadangan air di Candi,
desa Wungkal tersebut adalah satu – satunya sumber air di Semarang.
- Gugurnya dr. Kariadi
Setelah berita mengenai racun
tersiar, dr. Kariadi sebagai Kepala Laboratorium RS Purusara hendak memastikan
kabar tersebut. Ia pergi kesana dalam situasi yang sangat berbahaya karena
waktu itu tentara Jepang telah menyerang beberapa lokasi termasuk rute menuju
reservoir. drg. Soenarti, istrinya mencoba mencegah namun tidak berhasil. Mobil
dr. Kariadi dicegat oleh tentara Jepang dalam perjalanan menuju reservoir di
Jalan Pandanaran. Dr. Kariadi ditembak bersama supirnya, seorang tentara pelajar.
Beliau dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB, tetapi nyawanya tidak
dapat diselamatkan. Dr. Kariadi gugur pada usia 40 tahun lebih satu bulan.
Mulainya Peristiwa Lima Hari Di
Semarang
Peristiwa 5 hari di Semarang terjadi
menjelang hari Minggu malam tanggal 15 Oktober 1945. Kondisi kota Semarang saat
itu sangat mencekam terutama di area pos BKR dan para pemuda. Pasukan Pemuda
yang terdiri dari beberapa kelompok yaitu BKR, Polisi Istimewa, AMRI, AMKA
(Angkatan Muda Kereta Api) dan lainnya juga telah berjaga – jaga. Jepang
dibantu oleh 675 orang pasukan, yang singgah ke Semarang untuk menambah
logistik dalam perjalanan dari Irian ke Jakarta dan berpengalaman di medan
perang Irian. Kondisinya sangat kontras dari para pejuang Indonesia yang lebih
mengandalkan keberanian dibandingkan dengan Jepang yang persenjataannya lebih
lengkap. Pasukan para pemuda sama sekali belum pernah bertempur, jarang
mendapatkan pelatihan militer kecuali pelatihan untuk pasukan Polisi Istimewa,
mereka adalah anggota BKR dan eks PETA, serta hampir tidak bersenjata.
Tanggal 15 Oktober 1945 pukul 03.00
pasukan Kidobutai menyerang mendadak ke markas BKR Semarang, di kompleks bekas
sekolah MULO di Mugas, belakang bekas pom bensin Pandanaran. Tiba – tiba
pasukan Kidobutai menyerang dari sebuah bukit rendah di belakang markas. Mereka
diperkirakan berjumlah 400 orang dan menyerang dari dua arah menggunakan
tembakan pelempar granat dan senapan mesin. Setelah perlawanan selama setengah
jam, pemimpin BKR mengundurkan diri dan meninggalkan markas untuk menghindari
kepungan Jepang. Pasukan bergabung dengan pasukan Mirza Sidharta dan para
pemuda dari Pati, lalu menyerang balasan dengan sengit kepada Jepang yang telah
menguasai berbagai lokasi penting dalam kota.
Pasukan Indonesia menggunakan taktik
gerilya kota untuk menghindari pertempuran terbuka, dengan serangan tiba – tiba
dan juga menghilang secara tiba – tiba. Berkat taktik tersebut serangan kepada
Jepang selalu datang dalam bentuk bergantian dan bergelombang, sehingga
serangan tidak dapat diprediksi dan menyulitkan Jepang untuk menguasai kota.
Diperkirakan sekitar 2 ribu orang tentara Jepang menggunakan senjata – senjata
modern terlibat dalam peristiwa 5 hari di Semarang tersebut. Simpang Lima
adalah lokasi paling sering terjadi pertempuran. Disana merupakan lokasi
monumen Tugu Muda saat ini yang juga berkaitan dengan sejarah Lawang Sewu sebagai saksi bisu pertempuran. Lawang Sewu juga menjadi
salah satu bangunan bersejarah di Semarang yang masih berdiri hingga sekarang.
Puluhan pemuda yang terkepung
dibantai dengan kejam oleh pasukan Kidobutai. PMI juga tidak dapat bergerak
dengan leluasa untuk mengevakuasi mayat serta korban luka. Bala bantuan untuk
pemuda terus berdatangan dari area di sekitar Semarang. BKR berhasil berkonsolidasi
untuk mendapatkan bantuan dari wilayah lainnya di Jawa Tengah, membuat keadaan
berbalik menyudutkan Jepang. Jepang kemudian meminta kepada Mr. Wongsonegoro
untuk menghentikan pertempuran sebagai hasil akhir pertempuran 5 hari di Semarang. Gencatan senjata disetujui agar
tidak jaruh korban Indonesia lebih banyak dan untuk mempersiapkan diri bagi
kedatangan tentara sekutu. Walaupun para pemuda masih ingin membalas, namun
kedatangan sekutu di Semarang pada 19 Oktober 1945 mengakhiri peristiwa 5 hari
di Semarang.
Monumen Tugu Muda
Peristiwa Lima Hari Di Semarang
mengilhami pendirian sebuah monumen untuk mengenang peristiwa tersebut sebagai
salah satu monumen di Indonesia. Mr. Wongsonegoro sebagai Gubernur Jateng melakukan
peletakan batu pertama tanggal 28 Oktober 1945. Semula lokasi monumen
rencananya berada dekat alun – alun Semarang, namun perang melawan sekutu dan
Jepang pada November 1945 membuat proyek ini tidak terurus. Pada tahun 1949
Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) kembali mencetuskan ide tersebut
tetapi belum dapat terlaksana karena masalah dana. Hadi Soebeno Sosro Woedoyo sebagai
walikota Semarang pada 1951 membentuk Panitia Tugu Muda.
Beliau kemudian mengalihkan rencana
pembangunan ke lokasi pertempuran lima hari. Lokasi baru yaitu pada pertemuan
jalan Pemuda, jalan Imam Bonjol, jalan dr.Sutomo dan jalan Pandanaran dengan gedung
Lawang Sewu. Batu pertama diletakkan para 10 November 1951 oleh Gubernur
Jateng, Boediono. Peresmian Tugu Muda terjadi pada 20 Mei 1953 oleh Presiden
Soekarno bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Tidak hanya monumen Tugu
Muda yang bisa menjadi sumber sejarah bangsa yang bisa dikunjungi, masih ada
berbagai museum di Semarang , sejarah pelabuhan di Semarang dan juga sejarah Masjid Agung Semarang sebagai bagian dari sejarah kota
Semarang.
Sejarah
Ambarawa Singkat Serta Tokoh Dan Kronologi Pertempurannya
Monumen Palagan Ambarawa merupakan monumen yang terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Monumen ini adalah sebuah simbol untuk memperingati sejarah pertempuran Palagan Ambaganwa pada 12 Desember – 15 Desember 1945 Ambarawa. Pasukan Sekutu Magelang mendesak untuk mengundurkan diri ke Ambarawa, dan pasukan TKR yang dipimpin oleh Kolonel Sudirman berhasil menghancurkan Sekutu pada 15 Desember 1945, yang sekarang diperingati sebagai Hari Infanteri.
Monumen Palagan Ambarawa dibangun pada tahun 1973 dan diresmikan pada tanggal 15 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto. Penjelasan singkat tentang sejarah pertempuran dapat dilihat pada relief yang dibuat di dinding Monumen Palagan Ambarawa.
Pada monumen ini Anda dapat menemukan peninggalan pemerintah Jepang dan Belanda. Anda dapat melihat seragam tentara Jepang dan Belanda, senjata perang, seragam tentara Indonesia, dan benda bersejarah lainnya. Untuk ukuran yang agak besar, Anda dapat menemukan beberapa tank kuno, personel, dan kendaraan pengangkut meriam yang digunakan dalam pertempuran. Yang paling menarik adalah Anda dapat menemukan pesawat Mustang Belanda yang ditembak jatuh ke Rawa Pening.
Tokoh Pertempuran Ambarawa
Adapun tokoh-tokoh terkenal dalam pertempuran di ambarawa adalah
- Letkol Isdiman, gugur medan pertempuran ambarawa.
- Kolonel Sudirman, pemimpin pasukan Indonesia menggantikan Isdiman yang gugur dahulu.
- M Sarbini, Pemimpin TKR Resimen magelang.
- Brigadir Bethel, Pemimpin tentara Inggris.
Kronologi Peristiwa Ambarawa
Pada tanggal 20 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah kepemimpinan Bethell Brigadier mendarat di Semarang dengan maksud untuk merawat para tawanan perang dan tentara Jepang di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu-sekutu ini disertai oleh NICA. Kedatangan Sekutu pada awalnya disambut baik, bahkan Gubernur Jawa Tengah Bapak Wongsonegoro setuju untuk menyediakan makanan dan kebutuhan lain untuk kelancaran operasi Sekutu, sementara Sekutu berjanji untuk tidak mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.
Tetapi, saat pasukan Sekutu dan NICA tiba di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tahanan tentara Belanda, para tahanan bahkan dipersenjatai untuk membuat marah pihak Indonesia. Insiden bersenjata muncul di kota Magelang, sampai terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan menciptakan kekacauan. TKR Resimen Magelang yang dipimpin oleh Letkol M. Sarbini menanggapi tindakan ini dengan mengepung pasukan Sekutu dari segala arah. Tetapi mereka selamat dari kehancuran berkat intervensi Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Kemudian pasukan Sekutu diam-diam meninggalkan kota Magelang untuk pergi ke benteng Ambarawa. Akibat insiden itu, Resimen Kedu Tengah dipimpin oleh Letnan Kolonel. M. Sarbini segera mengejar mereka. Gerakan mundur pasukan Sekutu diadakan di Desa Jambu karena diblokir oleh pasukan Angkatan Muda di bawah kepemimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.
Pasukan Sekutu sekali lagi dikonfrontasi oleh Batalion 1 Soerjosoempeno di Ngipik. Selama pengunduran diri, pasukan Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah kepemimpinan Letnan Kolonel Isdiman mencoba membebaskan kedua desa itu, tetapi dia mati lebih dulu. Sejak kematian Letnan Kolonel. Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Sudirman merasakan kehilangan perwira terbaiknya dan dia segera turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kolonel Sudirman memberi napas baru bagi pasukan Indonesia. Koordinasi diadakan antara komando sektor dan pengepungan musuh yang semakin sulit. Taktik yang diterapkan adalah serangan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lainnya.
Pada tanggal 23 November 1945 ketika matahari mulai muncul, mulai baku tembak dengan pasukan Sekutu yang selamat di gereja Belanda dan kompleks kerkhop di Jl. Margo Agoeng. Pasukan Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Suharto dan Yon. Soegeng. Pasukan Sekutu mengerahkan tahanan Jepang dengan tank yang diperkuat, menyusup ke kursi Indonesia dari belakang, oleh karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono.
Pertempuran di Ambarawa
Pada 11 Desember 1945, Kolonel Sudirman mengadakan pertemuan dengan Komandan dan Tentara Sektor TKR. Pada 12 Desember 1945 pukul 4.30 pagi, serangan dimulai. Pembukaan serangan dimulai dengan menembak pertama kali, kemudian diikuti oleh penembak karabin. Pertempuran pecah di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikendalikan oleh unit TKR.
Pertempuran Ambarawa sangat sengit. Kol. Sudirman segera memimpin pasukannya untuk menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan ganda di kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Pasokan dan komunikasi dengan kekuatan utama sepenuhnya terputus. Setelah berjuang selama 4 hari, pada 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil membawa Ambarawa dan Sekutu kembali ke Semarang.
Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.
Demikian Penjelasan
Tentang Sejarah Ambarawa Singkat Serta Tokoh Dan Kronologi
Pertempurannya Semoga Bermanfaat
Sejarah Peristiwa Merah Putih di
Manado (1946)
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak berarti kondisi negara kita langsung berada dalam tahap yang aman dan tentram. Serangkaian insiden dan pertempuran berdarah masih terjadi dalam masa – masa mempertahankan kemerdekaan tersebut. Tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, pertempuran – pertempuran di masa setelah kemerdekaan juga terjadi di pulau – pulau lainnya antara lain di Sulawesi, tepatnya di Manado. Peristiwa ini menjadi salah satu rangkaian kejadian penting yang turut andil membentuk Republik Indonesia.
Para pemuda yang bergabung dalam pasukan KNIL kompi VII pimpinan Ch. Taulu bekerja sama dengan rakyat merebut kekuasaan di Manado, Tomohon dan Minahasa pada 14 Februari 1946. Hasilnya sekitar 600 orang pasukan serta pejabat Belanda berhasil mereka tahan. Pada tanggal 16 Februari 1946 dikeluarkan selebaran yang menyatakan kekuasaan seluruh Manado telah berada di tangan Indonesia. Peristiwa ini dikenal dengan nama Peristiwa Merah Putih.
Latar Belakang Peristiwa
Sejarah peristiwa merah putih di Manado berawal dari kekalahan Jepang yang secara resmi sudah diakui kepada Pasukan Sekutu sejak pertempuran di Pasifik pada Juli 1944. Sam Ratulangi mengirim para pemuda untuk pergi ke Manado pada saat yang berdekatan untuk mengawasi situasi. Dua diantara para utusan itu adalah Mantik Pakasi dan Freddy Lumanauw dari utusan tentara, serta perwakilan pemuda yaitu Wim Pangalila, Buce Ompi, dan Olang Sondakh. Dua bulan setelah pengutusan tersebut, mendadak muncul pesawat pembom B-29 milik Angkatan Udara Sekutu yang berjumlah puluhan dan menghujani Manado dengan bom, menghancurkan dan merenggut nyawa penduduk. Jepang kemudian mencurigai adanya mata – mata Sekutu yang juga berperan sebagai tokoh Nasionalis.
Pada September 1944 pertahanan Jepang di Sulawesi Utara dan Morotai juga takluk kepada Jenderal Mac Arthur. Kemudian pada pertengahan April 1945 sampai awal Februari 1945 juga masih terjadi banyak konflik di area tersebut. Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Sulawesi juga akan diambil alih oleh pasukan Sekutu, namun pada tanggal 21 Agustus 1945 wilayah tersebut sudah diserahkan oleh tentara Jepang kepada E.H.W. Palengkahu yang merupakan petinggi Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BPNI). Belanda bersama NICA yang berada di bawah perlindungan sekutu berencana kembali menduduki Indonesia Timur khususnya Sulawesi Utara.
Pada saat ini John Rahasia dan Wim Pangalila kemudian melihat adanya kesempatan untuk melakukan revolusi yang dilakukan oleh pemuda – pemuda Manado. BPNI kemudian bekerja sama secara diam – diam dengan Kononklijk Nederlands Indisch Leger atau KNIL dalam rangka merebut kekuasaan dari penjajah. Pada masa itu KNIL telah lepas dari kepentingan Belanda dan berpihak pada tanah air mereka sendiri. Ketahui juga mengenai sejarah hari Ayah, sejarah hari Kartini dan Biografi Habibie singkat.
Pasukan NICA mengetahui kegiatan tersebut dan menangkap para anggota BPNI di tanggal 10 Januari 1946, kemudian menangkap para tokoh KNIL pada 10 Februari 1946. Akan tetapi para anggota KNIL lainnya masih berusaha mencari jalan untuk melakukan pemberontakan tersebut dalam sejarah peristiwa merah putih di Manado. Mereka berhasil mempengaruhi pihak KNIL Belanda sehingga Kopral Mambi Runtukahu bersedia memimpin aksi penyergapan pada pos di markas garnisun Manado yaitu tangsi militer Teling Manado.
Serangan ke Tangsi Militer Belanda
Pukul 21.30 saat waktu apel malam, kelompok pejuang mulai menyiapkan diri. Mereka terdiri dari Wakil Komandan Regu I Mambi Runtukahu, Wadanru II Gerson Andris, Wadanru III Mas Sitam, Komandan Verkenner Jus Kotambunan, Anggota Regu IV Lengkong Item dan Verkenner Wehantouw. Pada pukul 24.00 sersan piket Sutarkun memerintahkan seluruh anggota yang masih berada di luar asrama untuk tidur karena akan diadakan pemeriksaan malam oleh Komandan Kompi VII Letnan Carlier dan Komandan Peleton Serma Wijszer. Persiapan akhir diperiksa pada pukul 00.30, dan pukul 00.45 seluruh pasukan berkumpul dan menyatakan tekad siap mempertaruhkan nyawa bagi RI. Tepat pukul 01.00, serangan dimulai.
Serangan dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih dalam sejarah bendera merah putih dengan merobek warna biru dari bendera Kerajaan Belanda. Pemimpin Garnisun Manado, Kapten Blom ditangkap sekitar pukul 03.00 setelah penahanan Letnan Verwaayen, pemimpin tangsi Teling. Siang harinya Letkol de Vries dan Residen Coomans de Ruyter serta seluruh anggota NICA ditangkap. Dalam serangan itu esok harinya para pejuang berhasil melucuti senjata semua pimpinan militer Belanda dan menahan mereka di dalam sel, juga menaklukkan kamp tahanan Jepang berisi 8000 prajurit.
Setelah kemenangan dalam sejarah peristiwa merah putih di Manado tersebut, Ch. Taulu sebagai pemimpin perjuangan mengeluarkan Maklumat Nomor 1 pada tanggal 15 Februari 1946. Isi maklumat tersebut adalah sebagai berikut:
- Pukul 01.00 tanggal 14 Februari 1946, para pejuang KNIL dibantu para pemuda telah merebut kekuasaan dari pemerintahan Belanda atau NICA Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.
- Rakyat diminta agar membantu perjuangan itu sepenuhnya
- Para pejuang agar mengambil alih pemerintahan Belanda
- Keamanan dijamin oleh Tentara RI Sulawesi Utara untuk seluruh wilayah Sulut
- Kantor – kantor pemerintahan, kegiatan ekonomi seperti pasar, sekolah, dan toko harus berjalan seperti biasa. Jika ada pasar atau toko yang tidak buka maka akan disita.
- Siapapun yang berani mengacau dengan penganiayaan, penculikan, perampokan, pembunuhan, dan lainnya akan dihukum mati di muka umum.
Setelah itu pemimpin perjuangan kemudian mengeluarkan Maklumat Nomor 2 yang isinya memberitahukan bahwa sudah diadakan Rapat Umum pada tanggal 16 Februari di Gedung Minahasa Raad (DPR), dengan dipimpin oleh pimpinan ketentaraan Indonesia di Sulawesi Utara dengan dihadiri oleh para Kepala Distrik dan onderdistrik di Minahasa, Raja Bolaang Mongondow, Kepala Daerah Gorontalo, para pemimpin dan pemuka Indonesia.
Hasil rapat ini menetapkan BW Lapian sebagai Kepala Pemerintahan Sipil Sulawesi Utara. Penanda tangan maklumat itu adalah Letkol Ch.Taulu, SD Wuisan, J. Kaseger, AF Nelwan dan F. Bisman. BW Lapian dibantu oleh DA Th. Gerungan di bidang kepemerintahan, AIA Ratulangi di bidang keuangan, Drh. Ratulangi di perekonomian, Dr. Ch. Singal di kesehatan, E. Katoppo bidang PPK, Hidayat di kehakiman, SD Wuisan di di kepolisian, Wolter Saerang di penerangan dan Max Tumbel di Pelabuhan/pelayaran untuk melaksanakan pemerintahan sipil.
Akhir Peristiwa Merah Putih
Kejadian dalam sejarah peristiwa merah putih ini diberitakan berulang lewat siaran radio dan telegraf oleh Dinas Penghubung Militer di Manado, yang diteruskan oleh kapal perang Australia SS ‘Luna’ ke markas besar Sekutu di Brisbane. Radio Australia kemudian menjadikannya sebagai berita utama yang disebarluaskan oleh BBC London serta Radio San Fransisco Amerika Serikat. Perebutan tangsi militer Teling dan pengibaran bendera merah putih menjadi pukulan telak untuk Belanda karena berhasil melumpuhkan provokasi Belanda di luar negeri bahwa hanya pulau Jawa yang berjuang untuk merebut kemerdekaan di Indonesia.
Belanda menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan bukan merupakan perjuangan semua rakyat Indonesia dan kekuasaan di daerah lain selain Jawa masih berada di genggaman Belanda. Kebangkitan rakyat Manado, Minahasa dan seluruh rakyat Sulut untuk merebut kekuasaan memberi dampak yang positif bagi diplomasi Indonesia di luar negeri dan sejarah kemerdekaan Indonesia dengan mempercepat pengakuan internasional terhadap kemerdekaan RI. Peristiwa ini memperkuat makna proklamasi kemerdekaan Indonesia dan perjuangan para tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Lewat sejarah peristiwa merah putih di Manado pada 14 Februari 1946 dapat meyakinkan dunia bahwa perjuangan kemerdekaan dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia.
puputan margarana
di bali
Latar belakang munculnya puputan
Margarana sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10
November 1946, Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah
Indonesia. Salah satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui
secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang
meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda diharuskan sudah
meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949
Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh
tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali sendiri adalah untuk
menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu Letnan Kolonel I
Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang
pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI,
sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda tersebut.
Di saat pasukan Belanda sudah
berhasil mendarat di Bali,
perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang
menguntungkan akibat perundingan Linggajati, di mana pulau Bali tidak diakui sebagai
bagian wilayah Republik Indonesia. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa
terhadap isi perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi
bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Terlebih lagi ketika Belanda
berusaha membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk
Negara Indonesia Timur. Untung saja ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I
Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18
November 1946. Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara
Berhasil memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di
Tabanan.
Karena geram, kemudian Belanda
mengerahkan seluruh kekuatannya di Bali dan Lombok untuk
menghadapi perlawanan I Gusti Ngurah Rai dan Rakyat Bali. Selain merasa geram
terhadap kekalahan pada pertempuran pertama, ternyata pasukan Belanda
juga kesal karena adanya konsolidasi dan pemusatan pasukan Ngurah Rai
yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Setelah berhasil
mengumpulkan pasukannya dari Bali
dan Lombok, kemudian Belanda berusaha mencari pusat kedudukan pasukan Ciung
Wanara.
Puncak Peristiwa
Pada tanggal 20 November 1946 I
Gusti Ngurah Rai dan pasukannya (Ciung Wanara), melakukan longmarch ke Gunung
Agung, ujung timur Pulau Bali.
Tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan, pasukan ini dicegat oleh serdadu Belanda
di Desa Marga, Tabanan, Bali.
Tak pelak, pertempuran sengit
pun tidak dapat diindahkan. Sehingga sontak daerah Marga yang saat itu masih
dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang
menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata
tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak
sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu.
Pasukan pemuda Ciung Wanara yang
saat itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru
menyerang serdadu Belanda. Mereka masih berfokus dengan pertahanannya dan
menunggu komando dari I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas serangan. Begitu
tembakan tanda menyerang diletuskan, puluhan pemuda menyeruak dari ladang
jagung dan membalas sergapan tentara Indische Civil Administration
(NICA) bentukan Belanda. Dengan senjata rampasan, akhirnya Ciung Wanara
berhasil memukul mundur serdadu Belanda.
Namun ternyata pertempuran belum
usai. Kali ini serdadu Belanda yang sudah terpancing emosi berubah
menjadi semakin brutal. Kali ini, bukan hanya letupan senjata yang terdengar,
namun NICA menggempur pasukan muda I Gusti Ngoerah Rai ini dengan bom dari
pesawat udara. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi
ladang pembantaian penuh asap dan darah.
Perang sampai habis atau puputan
inilah yang kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang
kemudian dicatat sebagai peristiwa Puputan
Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di Marga adalah sejarah penting
tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonial Belanda demi Nusa dan
Bangsa.

Komentar
Posting Komentar