7 Perang Melawan Penjajah


7 PERANG MELAWAN PENAJAJAH


See the source image

Perang 10 november

Tanggal 10 November selalu diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan di Sejarah Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Sejarah Peristiwa 10 November selalu menarik untuk dibahas karena peristiwa tersebut menunjukkan betapa besarnya keinginan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya. Pertempuran Surabaya adalah pertempuran tentara dan milisi pro-kemerdekaan Indonesia dan Tentara Britania Raya dan India Britania. Puncak pertempuran ini adalah terjadinya Peristiwa 10 November 1945.

Kronologi Sejarah Peristiwa 10 November

Penjelasan lebih rinci mengenai kronologi sejarah Peristiwa 10 November yakni sebagai berikut:


  1. Kedatangan Tentara Inggris yang diboncengi oleh Tentara Belanda


Peristiwa 10 November tidak terlepas dari kedatangan Tentara Inggris yang diboncengi oleh Tentara Belanda. Kedatangan Tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) berdasarkan keputusan dan atas nama Blok Sekutu. Kedatangan mereka bertujuan untuk melucuti Tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Namun, kedatangan Tentara Inggris ternyata diboncengi oleh Tentara Belanda NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng ke Indonesia untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Hal ini memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia dimana-mana untuk melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Baca juga Agresi Militer Belanda 1, Agresi Militer Belanda 2, dan masa penjajahan Belanda di Indonesia.


  1. Pengibaran Bendera Belanda di Hotel Yamato


Pasca Sejarah Kemerdekaan Indonesia dan dikeluarkannya maklumat pemerintah Soekarno tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan tersebut semakin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya.

Setiap tempat strategis dan berbagai tempat lainnya dikibarkan bendera Indonesia. Misalnya, di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (Kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) yang berlokasi di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Inernatio. Gerakan pengibaran bendera ini disusul barisan pemuda dari segala penjuru di Surabaya. Mereka membawa bendera Indonesia datang ke Tambaksari (lapangan Stadion Gelora 10 November) dalam rangka menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Lapangan Tambaksari dipenuhi lambaian bendera merah putih yang disertai pekik “Merdeka” yang diteriakkan massa. Rapat terus berlangsung meskipun pihak Kempetai melarang rapat tersebut. Namun, pihak Kempetai tidak mampu menghentikan dan membubarkan massa rakyat Surabaya tersebut. Puncak dari gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi saat insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru atau Hotel Yamato atau Oranje Hotel (saat ini bernama Hotel Majapahit) yang berlokasi di Jalan Tunjungan No. 65 Surabaya.

Insiden Hotel Yamato diawali dengan sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W. V. Ch Ploegman pada malam hari, tepatnya pukul 21.00 pada tanggal 19 September 1945, yang mengibarkan bendera Belanda (merah-putih-biru). Hal ini dilakukan tanpa persetujuan Pemerintah Republik Indonesia Daerah Surabaya. Pengibaran dilakukan di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.

Keesokan harinya, para pemuda Surabaya menjadi marah karena melihat bendera Belanda berkibar di hotel tersebut. Pengibaran tersebut dianggap sebagai tindakan penghinaan kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasaan kembali di Indonesia, dan bahkan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Kabar tersebut tersebar ke seluruh kota Suarabaya, sehingga dalam waktu singkat Jalan Tunjungan dibanjiri oleh massa yang geram. Residen Sudirman, seorang pejuang dan diplomat yang sedang menjabat sebagai Wakil Residen sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah Republik Indonesia, datang menemui Mr. Ploegman. Sudirman dikawal oleh Sidik dan Hariyono saat berunding dengan Mr. Ploegman untuk menurunkan bendera tersebut.

Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ia kemudian mengeluarkan pistol dan terjadi perkelahian dalam ruang perundingan. Ia tewas dicekik oleh Sidik, yang juga tewas oleh Tentara Belanda yang berjaga-jaga. Sudirman dan Haryono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

Para pemuda akhirnya mendobrak pintu hotel hingga terjadi perkelahian di lobi hotel. Mereka berebut untuk bisa naik ke lantai atas. Hariyono kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bersama Kusno Wibowo. Mereka berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya kembali ke puncak tiang. Peristiwa perobekan bendera Belanda tersebut disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik “Merdeka” berulang kali.

Setelah kejadian tersebut maka meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Serangan-serangan kecil kemudian berubah menjadi serangan yang banyak menelan korban jiwa di kedua belah pihak. Pihak Inggris, melalui Jenderal D. C. Hawthorn, akhirnya meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan ketegangan yang terjadi. Baca juga sejarah Monumen Tugu Pahlawan, bangunan bersejarah di Surabaya dan masjid bersejarah di Indonesia.


  1. Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby


Gencatan senjata terjadi antara pihak Indonesia dan pihak Tentara Inggris ditandai dengan penandatanganan pada tanggal 29 Oktober 1945. Situasi menegangkan diantara kedua belah pihak berangsur-angsur mereda. Meskipun tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya antara kedua belah pihak. Bentrokan-bentrokan tersebut semakin memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur). Insiden ini terjadi pada tanggal 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30.

Mobil yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan serombongan milisi Indonesia saat akan melewati Jembatan Merah. Terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan tembak menembak antara kedua belah pihak. Hal ini menyebabkan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia. Mobil yang ditumpangi Mallaby pun terbakar karena terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.

Hal ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia. Mereka kemudian menggantikan Mallaby dengan Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh. Selain itu, dikeluarkan juga ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada Tentara AFNEI dan Administrasi NICA.


  1. Peristiwa 10 November


Ultimatum yang dikeluarkan oleh pengganti Jenderal Mallaby dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat. Pasalnya ultimatum tersebut memerintahkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan ke atas. Waktu batas ultimatum adalah pukul 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.

Sepuluh November pagi, Tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Mereka mendapatkan perlawanan dari pasukan dan milisi Indonesia. Para pejuang kemerdekaan,seperti Bung Tomo, menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu untuk berjuang melawan. Para tokoh-tokoh agama, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, mengerahkan santri-santri dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan. Baca juga sejarah Hari Santri dan pahlawan nasional dari NTB.

Perlawanan berlangsung alot selama sekitar tiga minggu. Pada awalnya perlawanan rakyat berlangsung secara spontan dan tidak terkoordinasi, tetapi semakin hari makin teratur. Sekitar 6.000 – 16.000 pejuang dari pihak Indonesia kehilangan nyawanya dan 200.000 rakyat sipil mengungsi. Sebanyak 600 – 2.000 pasukan Inggris dan India tewas dalam pertempuran tersebut.

Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban menjadikan hari ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia. Baca juga pahlawan nasional dari Jawa Timur dan museum di Surabaya. Inilah kronologi sejarah Peristiwa 10 November yang syarat dengan nuansa heroik. Semoga bermanfaat.











.









BANDUNG LAUTAN API



Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Latar belakang

Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946[2]. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.

Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.

Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.

















Pertempuran medan area

9 Oktober 1945,pasukan sekutu dipimpin Brigadir Jenderral T.E.D Kelly mendarat di Sumatera Utara dengan memboncengi orang-orang NICA.13 Oktober 1945,Insiden pertama dari hotel di jalan Bali,Medan.Insiden berawal dari penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak berndera merah putih yang di pakai warga setempat.
10 Oktober 1945 dibentuk TKR Sumatera di pimpin Achmad Tahir dan badan perjuangan yang lainnya.15 Oktober 1945 mereka bergabung menjadi Pemuda Indonesia Sumatera Timur.Pada bulan November 1945,lahir laskar perjuangan baru seperti Napindo,Barisan Merah,Hizbullah dan pemuda parkindo.

18 Oktober 1945,Inggris memberi ultimatum kepada rakyat indonesia agar menyerahkan senjatanya.1 Desember 1945,sekutu memasang papam-papan yangbertuliskan fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudutkota Medan.Sejak saat itu,kata-kata "Medan Area" mennjadi terkenal.Bulan April 1946,Tentara Inggris berusaha mendesak pemerintah RI keluar kota Medan.10 A gustus 1946 di Bukit Tinggi diadakan pertemuan antara komandan pasukan yang berjuang di Medan Area yang di bentuksatu komando bernama komandon Resimen Laskar Rakyat Medan Area yang membawahi 4 sektor perjuangan.Dibawah komando ini,mereka meneruskan perjuangan di Medan Area.



























Pertempuran 5 hari disemarang

Pertempuran Lima Hari di Semarang dikenal dengan istilah Pertempuran Limang Dina dalam bahasa jawa, adalah serangkaian pertempuran yang berlangsung antara rakyat Indonesia dan  tentara Jepang. Pertempuran yang menjadi bagian dari sejarah kota Semarang ini terjadi pada tanggal 15 – 19 Oktober 1945. Waktu itu adalah masa transisi kekuasaan dari Jepang ke Belanda, dan seharusnya kekuasaan Jepang di Indonesia sudah berakhir. Penyerahan diri Jepang terhadap sekutu dilakukan pada tanggal 15 Agustus 1945 dan proklamasi kemerdekaan RI dibacakan pada 17 Agustus 1945. Mr. Wongsonegoro ditunjuk sebagai penguasa Republik di Jawa Tengah berpusat di Semarang untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang dalam segala bidang. Kemudian dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Penyebab Peristiwa Lima Hari Di Semarang

Peristiwa lima hari di Semarang terjadi karena beberapa alasan yang menjadi pemicunya hingga mencapai puncak berupa pertempuran selama lima hari tersebut. Beberapa hal yang menjadi penyebab pertempuran 5 hari di Semarang yaitu:


  • Kericuhan Penyitaan Senjata Jepang


Di beberapa wilayah, pelucutan senjata tentara Jepang dapat dilakukan tanpa kekerasan namun di Semarang justru terjadi kekacauan. Kido Butai, pusat ketentaraan Jepang di Jatingaleh Semarang curiga bahwa senjata – senjata tersebut tidak akan digunakan untuk melawan Jepang. Kecurigaan itu tetap ada walaupun Mr. Wongsonegoro telah menjaminnya sebagai Gubernur. Permintaan yang diulang untuk menyerahkan senjata hanya menghasilkan pengumpulan senjata – senjata yang sudah agak usang. Ketika sekutu mendaratkan pasukannya di Pulau Jawa, Pemuda Semarang dan BKR semakin curiga. Dikhawatirkan bahwa Jepang akan menyerahkan senjata kepada Sekutu dan Indonesia harus mendapatkan kesempatan menyita senjata tersebut sebelum sekutu mencapai Semarang. Kondisi semakin memanas ketika tawanan  Jepang yang dipindahkan dari Cepiring ke Bulu, kabur dan  bergabung dengan pasukan Kidobutai.


  • Isu Racun Pada Air Minum


Setelah tawanan Jepang melarikan diri, para pemuda diinstruksikan untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara pada 14 Oktober 1945 pukul 06.30. Pemeriksaan itu menghasilkan penyitaan sedan dan senjata milik Kempetai, lalu sore harinya tentara Jepang yang tersisa ditawan ke penjara Bulu. Pukul 18.00 terjadi serangan mendadak dari pasukan Jepang bersenjata lengkap dan melucuti delapan anggota polisi istimewa yang sedang menjaga Reservoir Siranda, sumber air minum warga kota di Candilama. Kedelapan anggota polisi dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh, kemudian tersebar kabar bahwa tentara Jepang sudah meracuni sumber air minum tersebut yang membuat rakyat gelisah. Kala itu cadangan air di Candi, desa Wungkal tersebut adalah satu – satunya sumber air di Semarang.


  • Gugurnya dr. Kariadi


Setelah berita mengenai racun tersiar, dr. Kariadi sebagai Kepala Laboratorium RS Purusara hendak memastikan kabar tersebut. Ia pergi kesana dalam situasi yang sangat berbahaya karena waktu itu tentara Jepang telah menyerang beberapa lokasi termasuk rute menuju reservoir. drg. Soenarti, istrinya mencoba mencegah namun tidak berhasil. Mobil dr. Kariadi dicegat oleh tentara Jepang dalam perjalanan menuju reservoir di Jalan Pandanaran. Dr. Kariadi ditembak bersama supirnya, seorang tentara pelajar. Beliau dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan. Dr. Kariadi gugur pada usia 40 tahun lebih satu bulan.

Mulainya Peristiwa Lima Hari Di Semarang

Peristiwa 5 hari di Semarang terjadi menjelang hari Minggu malam tanggal 15 Oktober 1945. Kondisi kota Semarang saat itu sangat mencekam terutama di area pos BKR dan para pemuda. Pasukan Pemuda yang terdiri dari beberapa kelompok yaitu BKR, Polisi Istimewa, AMRI, AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dan lainnya juga telah berjaga – jaga. Jepang dibantu oleh 675 orang pasukan, yang singgah ke Semarang untuk menambah logistik dalam perjalanan dari Irian ke Jakarta dan berpengalaman di medan perang Irian. Kondisinya sangat kontras dari para pejuang Indonesia yang lebih mengandalkan keberanian dibandingkan dengan Jepang yang persenjataannya lebih lengkap. Pasukan para pemuda sama sekali belum pernah bertempur, jarang mendapatkan pelatihan militer kecuali pelatihan untuk pasukan Polisi Istimewa, mereka adalah anggota BKR dan eks PETA, serta hampir tidak bersenjata.

Tanggal 15 Oktober 1945 pukul 03.00 pasukan Kidobutai menyerang mendadak ke markas BKR Semarang, di kompleks bekas sekolah MULO di Mugas, belakang bekas pom bensin Pandanaran. Tiba – tiba pasukan Kidobutai menyerang dari sebuah bukit rendah di belakang markas. Mereka diperkirakan berjumlah 400 orang dan menyerang dari dua arah menggunakan tembakan pelempar granat dan senapan mesin. Setelah perlawanan selama setengah jam, pemimpin BKR mengundurkan diri dan meninggalkan markas untuk menghindari kepungan Jepang. Pasukan bergabung dengan pasukan Mirza Sidharta dan para pemuda dari Pati, lalu menyerang balasan dengan sengit kepada Jepang yang telah menguasai berbagai lokasi penting dalam kota.

Pasukan Indonesia menggunakan taktik gerilya kota untuk menghindari pertempuran terbuka, dengan serangan tiba – tiba dan juga menghilang secara tiba – tiba. Berkat taktik tersebut serangan kepada Jepang selalu datang dalam bentuk bergantian dan bergelombang, sehingga serangan tidak dapat diprediksi dan menyulitkan Jepang untuk menguasai kota. Diperkirakan sekitar 2 ribu orang tentara Jepang menggunakan senjata – senjata modern terlibat dalam peristiwa 5 hari di Semarang tersebut. Simpang Lima adalah lokasi paling sering terjadi pertempuran. Disana merupakan lokasi monumen Tugu Muda saat ini yang juga berkaitan dengan sejarah Lawang Sewu sebagai saksi bisu pertempuran. Lawang Sewu juga menjadi salah satu bangunan bersejarah di Semarang yang masih berdiri hingga sekarang.

Puluhan pemuda yang terkepung dibantai dengan kejam oleh pasukan Kidobutai. PMI juga tidak dapat bergerak dengan leluasa untuk mengevakuasi mayat serta korban luka. Bala bantuan untuk pemuda terus berdatangan dari area di sekitar Semarang. BKR berhasil berkonsolidasi untuk mendapatkan bantuan dari wilayah lainnya di Jawa Tengah, membuat keadaan berbalik menyudutkan Jepang. Jepang kemudian meminta kepada Mr. Wongsonegoro untuk menghentikan pertempuran sebagai hasil akhir pertempuran 5 hari di Semarang. Gencatan senjata disetujui agar tidak jaruh korban Indonesia lebih banyak dan untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan tentara sekutu. Walaupun para pemuda masih ingin membalas, namun kedatangan sekutu di Semarang pada 19 Oktober 1945 mengakhiri peristiwa 5 hari di Semarang.

Monumen Tugu Muda

Peristiwa Lima Hari Di Semarang mengilhami pendirian sebuah monumen untuk mengenang peristiwa tersebut sebagai salah satu monumen di Indonesia. Mr. Wongsonegoro sebagai Gubernur Jateng melakukan peletakan batu pertama tanggal 28 Oktober 1945. Semula lokasi monumen rencananya berada dekat alun – alun Semarang, namun perang melawan sekutu dan Jepang pada November 1945 membuat proyek ini tidak terurus. Pada tahun 1949 Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) kembali mencetuskan ide tersebut tetapi belum dapat terlaksana karena masalah dana. Hadi Soebeno Sosro Woedoyo sebagai walikota Semarang pada 1951 membentuk Panitia Tugu Muda.

Beliau kemudian mengalihkan rencana pembangunan ke lokasi pertempuran lima hari. Lokasi baru yaitu pada pertemuan jalan Pemuda, jalan Imam Bonjol, jalan dr.Sutomo dan jalan Pandanaran dengan gedung Lawang Sewu. Batu pertama diletakkan para 10 November 1951 oleh Gubernur Jateng, Boediono. Peresmian Tugu Muda terjadi pada 20 Mei 1953 oleh Presiden Soekarno bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Tidak hanya monumen Tugu Muda yang bisa menjadi sumber sejarah bangsa yang bisa dikunjungi, masih ada berbagai  museum di Semarang , sejarah pelabuhan di Semarang dan juga sejarah Masjid Agung Semarang sebagai bagian dari sejarah kota Semarang.

























Sejarah Ambarawa Singkat Serta Tokoh Dan Kronologi Pertempurannya

Monumen Palagan Ambarawa merupakan monumen yang terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Monumen ini adalah sebuah simbol untuk memperingati sejarah pertempuran Palagan Ambaganwa pada 12 Desember – 15 Desember 1945 Ambarawa. Pasukan Sekutu Magelang mendesak untuk mengundurkan diri ke Ambarawa, dan pasukan TKR yang dipimpin oleh Kolonel Sudirman berhasil menghancurkan Sekutu pada 15 Desember 1945, yang sekarang diperingati sebagai Hari Infanteri.

Monumen Palagan Ambarawa dibangun pada tahun 1973 dan diresmikan pada tanggal 15 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto. Penjelasan singkat tentang sejarah pertempuran dapat dilihat pada relief yang dibuat di dinding Monumen Palagan Ambarawa.

Pada monumen ini Anda dapat menemukan peninggalan pemerintah Jepang dan Belanda. Anda dapat melihat seragam tentara Jepang dan Belanda, senjata perang, seragam tentara Indonesia, dan benda bersejarah lainnya. Untuk ukuran yang agak besar, Anda dapat menemukan beberapa tank kuno, personel, dan kendaraan pengangkut meriam yang digunakan dalam pertempuran. Yang paling menarik adalah Anda dapat menemukan pesawat Mustang Belanda yang ditembak jatuh ke Rawa Pening.

Tokoh Pertempuran Ambarawa

Adapun tokoh-tokoh terkenal dalam pertempuran di ambarawa adalah


  1. Letkol Isdiman, gugur medan pertempuran ambarawa.

  1. Kolonel Sudirman, pemimpin pasukan Indonesia menggantikan Isdiman yang gugur dahulu.

  1. M Sarbini, Pemimpin TKR Resimen magelang.

  1. Brigadir Bethel, Pemimpin tentara Inggris.





Kronologi Peristiwa Ambarawa

Pada tanggal 20 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah kepemimpinan Bethell Brigadier mendarat di Semarang dengan maksud untuk merawat para tawanan perang dan tentara Jepang di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu-sekutu ini disertai oleh NICA. Kedatangan Sekutu pada awalnya disambut baik, bahkan Gubernur Jawa Tengah Bapak Wongsonegoro setuju untuk menyediakan makanan dan kebutuhan lain untuk kelancaran operasi Sekutu, sementara Sekutu berjanji untuk tidak mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.

Tetapi, saat pasukan Sekutu dan NICA tiba di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tahanan tentara Belanda, para tahanan bahkan dipersenjatai untuk membuat marah pihak Indonesia. Insiden bersenjata muncul di kota Magelang, sampai terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan menciptakan kekacauan. TKR Resimen Magelang yang dipimpin oleh Letkol M. Sarbini menanggapi tindakan ini dengan mengepung pasukan Sekutu dari segala arah. Tetapi mereka selamat dari kehancuran berkat intervensi Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Kemudian pasukan Sekutu diam-diam meninggalkan kota Magelang untuk pergi ke benteng Ambarawa. Akibat insiden itu, Resimen Kedu Tengah dipimpin oleh Letnan Kolonel. M. Sarbini segera mengejar mereka. Gerakan mundur pasukan Sekutu diadakan di Desa Jambu karena diblokir oleh pasukan Angkatan Muda di bawah kepemimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.

Pasukan Sekutu sekali lagi dikonfrontasi oleh Batalion 1 Soerjosoempeno di Ngipik. Selama pengunduran diri, pasukan Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah kepemimpinan Letnan Kolonel Isdiman mencoba membebaskan kedua desa itu, tetapi dia mati lebih dulu. Sejak kematian Letnan Kolonel. Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Sudirman merasakan kehilangan perwira terbaiknya dan dia segera turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kolonel Sudirman memberi napas baru bagi pasukan Indonesia. Koordinasi diadakan antara komando sektor dan pengepungan musuh yang semakin sulit. Taktik yang diterapkan adalah serangan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lainnya.

Pada tanggal 23 November 1945 ketika matahari mulai muncul, mulai baku tembak dengan pasukan Sekutu yang selamat di gereja Belanda dan kompleks kerkhop di Jl. Margo Agoeng. Pasukan Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Suharto dan Yon. Soegeng. Pasukan Sekutu mengerahkan tahanan Jepang dengan tank yang diperkuat, menyusup ke kursi Indonesia dari belakang, oleh karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono.




Pertempuran di Ambarawa

Pada 11 Desember 1945, Kolonel Sudirman mengadakan pertemuan dengan Komandan dan Tentara Sektor TKR. Pada 12 Desember 1945 pukul 4.30 pagi, serangan dimulai. Pembukaan serangan dimulai dengan menembak pertama kali, kemudian diikuti oleh penembak karabin. Pertempuran pecah di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikendalikan oleh unit TKR.

Pertempuran Ambarawa sangat sengit. Kol. Sudirman segera memimpin pasukannya untuk menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan ganda di kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Pasokan dan komunikasi dengan kekuatan utama sepenuhnya terputus. Setelah berjuang selama 4 hari, pada 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil membawa Ambarawa dan Sekutu kembali ke Semarang.

Kemenangan pertempuran ini kini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.

Demikian Penjelasan Tentang Sejarah Ambarawa Singkat Serta Tokoh Dan Kronologi Pertempurannya Semoga Bermanfaat












Sejarah Peristiwa Merah Putih di Manado (1946)

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak berarti kondisi negara kita langsung berada dalam tahap yang aman dan tentram. Serangkaian insiden dan pertempuran berdarah masih terjadi dalam masa – masa mempertahankan kemerdekaan tersebut. Tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, pertempuran – pertempuran di masa setelah kemerdekaan juga terjadi di pulau – pulau lainnya antara lain di Sulawesi, tepatnya di Manado. Peristiwa ini  menjadi salah satu rangkaian kejadian penting yang turut andil membentuk Republik Indonesia.

Para pemuda yang bergabung dalam pasukan KNIL kompi VII pimpinan Ch. Taulu bekerja sama dengan rakyat merebut kekuasaan di Manado, Tomohon dan Minahasa pada 14 Februari 1946. Hasilnya sekitar 600 orang pasukan serta pejabat Belanda berhasil mereka tahan. Pada tanggal 16 Februari 1946 dikeluarkan selebaran yang menyatakan kekuasaan seluruh Manado telah berada di tangan Indonesia. Peristiwa ini dikenal dengan nama Peristiwa Merah Putih.

Latar Belakang Peristiwa

Sejarah peristiwa merah putih di Manado berawal dari kekalahan Jepang yang secara resmi sudah diakui kepada Pasukan Sekutu sejak pertempuran di Pasifik pada Juli 1944. Sam Ratulangi mengirim para pemuda untuk pergi ke Manado pada saat yang berdekatan untuk mengawasi situasi. Dua diantara para utusan itu adalah Mantik Pakasi dan Freddy Lumanauw dari utusan tentara, serta perwakilan pemuda yaitu Wim Pangalila, Buce Ompi, dan Olang Sondakh. Dua bulan setelah pengutusan tersebut, mendadak muncul pesawat pembom B-29 milik Angkatan Udara Sekutu yang berjumlah puluhan dan menghujani Manado dengan bom, menghancurkan dan merenggut nyawa penduduk. Jepang kemudian mencurigai adanya mata – mata Sekutu yang juga berperan sebagai tokoh Nasionalis.

Pada September 1944 pertahanan Jepang di Sulawesi Utara dan Morotai juga takluk kepada Jenderal Mac Arthur. Kemudian pada pertengahan April 1945 sampai awal Februari 1945 juga masih terjadi banyak konflik di area tersebut. Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Sulawesi juga akan diambil alih oleh pasukan Sekutu, namun pada tanggal 21 Agustus 1945 wilayah tersebut sudah diserahkan oleh tentara Jepang kepada E.H.W. Palengkahu yang merupakan petinggi Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BPNI). Belanda bersama NICA yang berada di bawah perlindungan sekutu berencana kembali menduduki Indonesia Timur khususnya Sulawesi Utara.

Pada saat ini John Rahasia dan Wim Pangalila kemudian melihat adanya kesempatan untuk melakukan revolusi yang dilakukan oleh pemuda – pemuda Manado. BPNI kemudian bekerja sama secara diam – diam dengan Kononklijk Nederlands Indisch Leger atau KNIL dalam rangka merebut kekuasaan dari penjajah. Pada masa itu KNIL telah lepas dari kepentingan Belanda dan berpihak pada tanah air mereka sendiri. Ketahui juga mengenai sejarah hari Ayah, sejarah hari Kartini dan Biografi Habibie singkat.

Pasukan NICA mengetahui kegiatan tersebut dan menangkap para anggota BPNI di tanggal 10 Januari 1946, kemudian menangkap para tokoh KNIL pada 10 Februari 1946. Akan tetapi para anggota KNIL lainnya masih berusaha mencari jalan untuk melakukan pemberontakan tersebut dalam sejarah peristiwa merah putih di Manado. Mereka berhasil mempengaruhi pihak KNIL Belanda sehingga Kopral Mambi Runtukahu bersedia memimpin aksi penyergapan pada pos di markas garnisun Manado yaitu tangsi militer Teling Manado.

Serangan ke Tangsi Militer Belanda

Pukul 21.30 saat waktu apel malam, kelompok pejuang mulai menyiapkan diri. Mereka terdiri dari Wakil Komandan Regu I Mambi Runtukahu, Wadanru II Gerson Andris, Wadanru III Mas Sitam, Komandan Verkenner Jus Kotambunan, Anggota Regu IV Lengkong Item dan Verkenner Wehantouw. Pada pukul 24.00 sersan piket Sutarkun memerintahkan seluruh anggota yang masih berada di luar asrama untuk tidur karena akan diadakan pemeriksaan malam oleh Komandan Kompi VII Letnan Carlier dan Komandan Peleton Serma Wijszer. Persiapan akhir diperiksa pada pukul 00.30, dan pukul 00.45 seluruh pasukan berkumpul dan menyatakan tekad siap mempertaruhkan nyawa bagi RI. Tepat pukul 01.00, serangan dimulai.

Serangan dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih dalam sejarah bendera merah putih dengan merobek warna biru dari bendera Kerajaan Belanda. Pemimpin Garnisun Manado, Kapten Blom ditangkap sekitar pukul 03.00 setelah penahanan Letnan Verwaayen, pemimpin tangsi Teling. Siang harinya Letkol de Vries dan Residen Coomans de Ruyter serta seluruh anggota NICA ditangkap. Dalam serangan itu esok harinya para pejuang berhasil melucuti senjata semua pimpinan militer Belanda dan menahan mereka di dalam sel, juga menaklukkan kamp tahanan  Jepang berisi 8000 prajurit.

Setelah kemenangan dalam sejarah peristiwa merah putih di Manado tersebut, Ch. Taulu sebagai pemimpin perjuangan mengeluarkan Maklumat Nomor 1 pada tanggal 15 Februari 1946. Isi maklumat tersebut adalah sebagai berikut:


  • Pukul 01.00 tanggal 14 Februari 1946, para pejuang KNIL dibantu para pemuda telah merebut kekuasaan dari pemerintahan Belanda atau NICA Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.

  • Rakyat diminta agar membantu perjuangan itu sepenuhnya

  • Para pejuang agar mengambil alih pemerintahan Belanda

  • Keamanan dijamin oleh Tentara RI Sulawesi Utara untuk seluruh wilayah Sulut

  • Kantor – kantor pemerintahan, kegiatan ekonomi seperti pasar, sekolah, dan toko harus berjalan seperti biasa. Jika ada pasar atau toko yang tidak buka maka akan disita.

  • Siapapun yang berani mengacau dengan penganiayaan, penculikan, perampokan, pembunuhan, dan lainnya akan dihukum mati di muka umum.


Setelah itu pemimpin perjuangan kemudian mengeluarkan Maklumat Nomor 2 yang isinya memberitahukan bahwa sudah diadakan Rapat Umum pada tanggal 16 Februari di Gedung Minahasa Raad (DPR), dengan dipimpin oleh pimpinan ketentaraan Indonesia di Sulawesi Utara dengan dihadiri oleh para Kepala Distrik dan onderdistrik di Minahasa, Raja Bolaang Mongondow, Kepala Daerah Gorontalo, para pemimpin dan pemuka Indonesia.

Hasil rapat ini menetapkan BW Lapian sebagai Kepala Pemerintahan Sipil Sulawesi Utara. Penanda tangan maklumat itu adalah Letkol Ch.Taulu, SD Wuisan, J. Kaseger, AF Nelwan dan F. Bisman. BW Lapian dibantu oleh DA Th. Gerungan di bidang kepemerintahan, AIA Ratulangi di bidang keuangan, Drh. Ratulangi di perekonomian, Dr. Ch. Singal di kesehatan, E. Katoppo bidang PPK, Hidayat di kehakiman, SD Wuisan di di kepolisian, Wolter Saerang di penerangan dan Max Tumbel di Pelabuhan/pelayaran untuk melaksanakan pemerintahan sipil.

Akhir Peristiwa Merah Putih

Kejadian dalam sejarah peristiwa merah putih ini diberitakan berulang lewat siaran radio dan telegraf oleh Dinas Penghubung Militer di Manado, yang diteruskan oleh kapal perang Australia SS ‘Luna’ ke markas besar Sekutu di Brisbane. Radio Australia kemudian menjadikannya sebagai berita utama yang disebarluaskan oleh BBC London serta Radio San Fransisco Amerika Serikat. Perebutan tangsi militer Teling dan pengibaran bendera merah putih menjadi pukulan telak untuk Belanda karena berhasil melumpuhkan provokasi Belanda di luar negeri bahwa hanya pulau Jawa yang berjuang untuk merebut kemerdekaan di Indonesia.

Belanda menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan bukan merupakan perjuangan semua rakyat Indonesia dan kekuasaan di daerah lain selain Jawa masih berada di genggaman Belanda. Kebangkitan rakyat Manado, Minahasa dan seluruh rakyat Sulut untuk merebut kekuasaan memberi dampak yang positif bagi diplomasi Indonesia di luar negeri dan sejarah kemerdekaan Indonesia dengan mempercepat pengakuan internasional terhadap kemerdekaan RI. Peristiwa ini memperkuat makna proklamasi kemerdekaan Indonesia dan perjuangan para tokoh proklamator  kemerdekaan Indonesia. Lewat sejarah peristiwa merah putih di Manado pada 14 Februari 1946 dapat meyakinkan dunia bahwa perjuangan kemerdekaan dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia.

























puputan margarana di bali

Latar belakang munculnya puputan Margarana sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946, Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah Indonesia. Salah satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali sendiri adalah untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI, sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda tersebut.

Di saat pasukan Belanda sudah berhasil mendarat di Bali, perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat perundingan Linggajati, di mana pulau Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah Republik Indonesia. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa terhadap isi perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terlebih lagi ketika Belanda berusaha membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk Negara Indonesia Timur. Untung saja ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946. Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan. 

Karena geram, kemudian Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan I Gusti Ngurah Rai dan Rakyat Bali. Selain merasa geram terhadap kekalahan pada pertempuran pertama, ternyata pasukan  Belanda juga kesal karena adanya konsolidasi dan pemusatan pasukan Ngurah Rai  yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Setelah berhasil mengumpulkan pasukannya dari Bali dan Lombok, kemudian Belanda berusaha mencari pusat kedudukan pasukan Ciung Wanara.

Puncak Peristiwa

Pada tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya (Ciung Wanara), melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur Pulau Bali. Tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan, pasukan ini dicegat oleh serdadu Belanda di Desa Marga, Tabanan, Bali.

Tak pelak, pertempuran sengit pun tidak dapat diindahkan. Sehingga sontak daerah Marga yang saat itu masih dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu.

Pasukan pemuda Ciung Wanara yang saat itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru menyerang serdadu Belanda. Mereka masih berfokus dengan pertahanannya dan menunggu komando dari I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas serangan. Begitu tembakan tanda menyerang diletuskan, puluhan pemuda menyeruak dari ladang jagung dan membalas sergapan tentara Indische Civil Administration (NICA) bentukan Belanda. Dengan senjata rampasan, akhirnya Ciung Wanara berhasil memukul mundur serdadu Belanda.

Namun ternyata pertempuran belum usai. Kali ini serdadu Belanda yang sudah   terpancing emosi berubah menjadi semakin brutal. Kali ini, bukan hanya letupan senjata yang terdengar, namun NICA menggempur pasukan muda I Gusti Ngoerah Rai ini dengan bom dari pesawat udara. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi ladang pembantaian penuh asap dan darah.

Perang sampai habis atau puputan inilah yang kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian dicatat sebagai peristiwa Puputan Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di Marga adalah sejarah penting tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonial Belanda demi Nusa dan Bangsa. 




Komentar

Postingan Populer